4 UTS-3 My Stories for You
Namanya Ammar.
Bukan siapa-siapa, bukan superstar, bukan saudagar, apalagi bangsawan. Bukan juga tipe orang yang hidupnya akan diangkat jadi film dokumenter. Dia hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang hari-harinya saat ini berputar di antara laporan skripsi, mie instan, notifikasi tagihan kos, dan bunyi token listrik yang tersisa sedikit.
Sejujurnya, beberapa minggu terakhir ini bukan masa terbaik dalam hidupnya. Laptopnya rusak, uang kiriman belum turun, dan dosen pembimbingnya ternyata lebih susah ditemui daripada tim yang berguna saat solo ranked di rank epic Mobile Legends. Belum lagi, seminggu lalu dia kehilangan flashdisk berisi revisi bab tiga yang belum sempat di-backup. Rasanya seperti semua planet di tata surya sedang bersekongkol untuk menjatuhkannya.
Suatu malam, Ammar duduk sendirian di bangku taman belakang kampus. Langitnya mendung, tapi tidak hujan. Persis seperti mood-nya. Ia menatap layar ponselnya yang baterainya tinggal 5%, lalu menghela napas panjang.
“Kenapa sih, semuanya harus tidak berpihak kepadaku?” gumamnya pelan.
Ia merasa lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah yang membuat dada terasa penuh. Saat sedang larut dalam pikiran sendiri, ada suara kecil menyapanya. “Kak, ini ada yang jatuh, kayaknya punya kakaknya deh.”
Ammar menoleh. Seorang anak kecil, mungkin sekitar tujuh tahun, berdiri di hadapannya sambil mengulurkan permen lolipop. Ammar menggeleng, “Oh, itu bukan punyaku dik.”
“Iyadong ini kan punyaku hehe. Santai kak, kakak ambil aja permennya. Gratis kok!” kata anak itu sambil tersenyum lebar, senyum yang terlalu tulus untuk ditolak.
Ammar bertanya, “Kamu sering ke sini?”.
“Iya. Ibuku jualan cilok di sana,” jawab anak itu. “Aku suka keliling menyapa orang-orang. Soalnya disini suka ada orang seperti kakak, duduk sendirian dan kelihatan murung, makanya aku sapa, biar kakak gak kesepian.”
Ammar terdiam. Kalimat sederhana itu seperti berputar-putar di kepalanya. Biar nggak kesepian…
Ia memperhatikan anak itu kembali ke gerobak ibunya. Semuanya masih sama; sederhana, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Ammar merasa… tenang. Ia membuka bungkus permen itu. Rasanya manis, tapi bukan karena gulanya. Mungkin karena malam itu, ia berhenti sejenak dari kegelisahannya, dan mulai memperhatikan hal-hal kecil yang ternyata, membuat hidupnya terasa hangat.
Keesokan harinya, Ammar bangun lebih pagi. Ia mulai menulis ulang bab tiga yang hilang. Entah kenapa, kali ini dia tidak terlalu tergesa. Ia sadar, hidup tidak harus selalu besar, cepat, teratur, atau sempurna. Kebahagiaan datang dalam bentuk kecil yang mungkin terlewatkan: senyum tulus seorang anak kecil, secangkir kopi hangat, atau keberanian untuk memulai lagi setelah gagal.
Sore harinya, Ammar melihat anak kecil itu lagi dan melambaikan tangan. Di momen sederhana itu, Ammar merasa bersyukur, bukan karena hidupnya tiba-tiba membaik, tapi karena ia akhirnya bisa melihat kebaikan kecil di dalam hari-hari yang biasa.
“Hidup tidak selalu berjalan mulus, dan kita tidak harus selalu kuat. Tapi selama kita masih bisa menemukan hal-hal kecil yang membuat kita tersenyum, hidup ini, ternyata, tidak seburuk itu :>”